kholvad.com – Pada Selasa, 25 November 2025, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan kesiapan untuk melangkah maju dalam rencana perdamaian yang didukung Amerika Serikat (AS). Dalam pernyataannya. Zelensky menyebutkan bahwa ia siap untuk bertemu dengan Presiden AS Donald Trump untuk membahas “poin-poin sensitif” yang masih perlu diselesaikan dalam upaya untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun antara Ukraina dan Rusia. Pertemuan ini direncanakan akan berlangsung sebelum akhir bulan ini.
“Baca Juga: Jair Bolsonaro Mulai Jalani Hukuman 27 Tahun Penjara atas Kudeta”
Rencana Perdamaian AS: 28 Poin untuk Mengakhiri Perang
Zelensky mengungkapkan bahwa perdamaian yang diusulkan berdasarkan pada rencana 28 poin yang diajukan AS kepada Ukraina pada minggu sebelumnya. Rencana tersebut telah dibahas oleh para pejabat dari kedua negara dalam pertemuan di Jenewa. Di mana beberapa ketentuan dianggap tidak perlu dan dihapuskan untuk menyederhanakan proses negosiasi. Meskipun demikian, Zelensky menegaskan bahwa banyak hal bergantung pada Amerika, yang memiliki pengaruh besar terhadap Rusia dalam proses diplomatik ini.
Donald Trump Menghargai Kemajuan, Menunggu Kesepakatan Final
Presiden Donald Trump juga menyambut baik kemajuan dalam negosiasi tersebut dan menyatakan bahwa rencana perdamaian kini telah “disempurnakan” dengan masukan dari kedua pihak. Trump berharap dapat segera bertemu dengan Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memfinalisasi kesepakatan. Namun, Trump menegaskan bahwa pertemuan dengan kedua pemimpin tersebut hanya akan terjadi ketika kesepakatan perdamaian berada pada tahap akhir atau “final.”
Trump juga menambahkan bahwa perundingan akan melibatkan konsesi dari kedua belah pihak dan bertujuan untuk “membersihkan perbatasan” yang menjadi sumber perselisihan. Meskipun tidak ada tenggat waktu yang ditetapkan, proses ini bertujuan untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima oleh kedua negara.
Rusia Menyatakan Keberatan Terhadap Perubahan Rencana Perdamaian
Kremlin mengungkapkan kekhawatirannya terkait perubahan dalam rancangan kesepakatan yang diusulkan oleh AS. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyatakan bahwa Rusia belum dilibatkan dalam konsultasi terkait perubahan yang dilakukan pada rencana perdamaian. Lavrov juga memperingatkan bahwa Moskow mungkin tidak akan menerima amandemen terhadap rencana yang diajukan pekan lalu. Yang menurutnya merupakan dasar yang dapat diterima oleh Rusia. Hingga saat ini, beberapa isu krusial. Termasuk jaminan keamanan untuk Ukraina dan kendali atas wilayah timur Ukraina yang dikuasai Rusia, masih belum terselesaikan.
“Baca Juga: Amazon Perkenalkan Leo Ultra, Terminal Satelit 1 Gbps untuk Tantang Starlink”
Perang Berlanjut Sementara Negosiasi Berlangsung
Meski pembicaraan perdamaian terus berlanjut, pertempuran antara pasukan Ukraina dan Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada Selasa malam, kedua belah pihak dilaporkan saling melancarkan serangan di daerah Zaporizhzhia, yang telah mengakibatkan sejumlah korban. Kepala Daerah Ukraina di wilayah tersebut, Ivan Federov. Melaporkan bahwa sedikitnya tujuh orang terluka, sementara gubernur yang ditunjuk Kremlin, Yevgeny Balitsky, menyatakan bahwa serangan Ukraina menyebabkan kerusakan pada jaringan listrik di wilayah yang dikuasainya, mengakibatkan 40.000 orang kehilangan akses listrik.
Konflik ini telah menyebabkan puluhan ribu korban jiwa, baik tentara maupun warga sipil, serta memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka sejak invasi Rusia dimulai pada Februari 2022. Meski demikian, upaya diplomatik untuk mengakhiri perang terus berlangsung, dengan harapan dapat membawa perdamaian dan stabilitas kembali ke kawasan tersebut.
