kholvad.com – MindsEye, game besutan Build a Rocket Boy, kerap menjadi perbincangan sejak dirilis pada 2025. Banyak gamer menilai game ini sebagai salah satu judul dengan penerimaan terburuk tahun tersebut. Kritik datang dari berbagai aspek, mulai dari teknis hingga desain permainan. Reputasi MindsEye pun terlanjur tercoreng di mata komunitas. Kondisi ini membuat Build a Rocket Boy berada di bawah tekanan besar. Studio tersebut harus menghadapi gelombang ulasan negatif dan diskusi publik yang intens. Dalam situasi tersebut, muncul kabar baru yang dinilai cukup mengejutkan. Tuduhan serius kini diarahkan pada pihak eksternal yang disebut terlibat dalam sabotase. Isu ini langsung menarik perhatian karena menyangkut dugaan kampanye terorganisir. MindsEye kembali menjadi sorotan, kali ini bukan karena kualitas gamenya.
“Baca Juga: Pergantian DRM Bikin Performa Resident Evil 4 PC Anjlok”
Tuduhan Kampanye Sabotase Disampaikan Co-CEO Build a Rocket Boy
Kabar mengejutkan ini diungkap oleh Co-CEO Build a Rocket Boy, Mark Gerhard. Dalam sebuah pertemuan internal studio, Gerhard menyatakan bahwa MindsEye menjadi target kampanye sabotase. Informasi ini dilaporkan oleh Insider Gaming. Gerhard mengawali pernyataannya dengan mengklaim bahwa pihak studio telah mengidentifikasi pelaku sabotase. Ia menyebut ada pihak yang secara sengaja merusak reputasi game dan studio. Tuduhan tersebut disampaikan secara langsung kepada staf internal. Gerhard menilai skala kampanye ini tidak kecil. Menurutnya, ada aktor besar di balik upaya tersebut. Pernyataan ini langsung memicu kontroversi di kalangan industri game.
Dugaan Perusahaan Amerika dan Keterlibatan Ritual Network
Dalam pernyataannya, Mark Gerhard menuduh adanya perusahaan besar asal Amerika Serikat di balik kampanye tersebut. Ia menyebut perusahaan tersebut sangat Amerika, namun bukan pihak yang selama ini diduga publik. Menurut Gerhard, kampanye ini memiliki anggaran lebih dari satu juta euro sepanjang 2025. Dana tersebut diduga digunakan untuk mendanai upaya pencemaran reputasi MindsEye. Gerhard juga menyebut keterlibatan sebuah agensi influencer asal Inggris bernama Ritual Network. Agensi tersebut dituding menjadi perantara kampanye sabotase. Gerhard bahkan menyebut Ritual Network sebagai kelompok yang bekerja dengan cara tidak etis. Ia menuduh agensi tersebut membayar influencer untuk menyerang MindsEye. Tuduhan ini mencakup upaya sistematis di berbagai platform daring.
Influencer dan Jurnalis Disebut Terlibat dalam Kampanye Negatif
Mark Gerhard juga menyebut nama influencer bernama Cyberboi dalam tuduhannya. Ia mengklaim bahwa Cyberboi termasuk pihak yang dibayar untuk merusak citra MindsEye. Gerhard menyatakan telah mengirimkan perintah penghentian kepada influencer tersebut melalui Discord. Selain itu, ia menuduh kampanye ini melibatkan lebih dari satu pihak media. Gerhard menyebut ada tiga jurnalis dan bahkan pegawai studio yang diduga terlibat. Tuduhan ini memperluas skala kasus dari sekadar influencer. Menurut Gerhard, tindakan tersebut masuk kategori serius. Ia menyebut istilah mata-mata, sabotase, dan campur tangan kriminal. Gerhard menegaskan bahwa laporan komplain kriminal akan segera diajukan. Pernyataan ini menempatkan konflik pada ranah hukum.
“Baca Juga: Take-Two Tegaskan Jadwal Peluncuran GTA 6 Aman”
Bantahan Keras Ritual Network atas Tuduhan Sabotase
Menanggapi tuduhan tersebut, Ritual Network memberikan pernyataan resmi. Agensi tersebut dengan tegas membantah semua klaim yang diarahkan kepada mereka. Ritual Network menyatakan bahwa mereka merupakan platform dukungan bagi kreator. Mereka menegaskan tidak terlibat dalam kampanye sabotase apa pun. Pihak Ritual Network mengaku tidak mengetahui adanya proses hukum terkait tuduhan tersebut. Mereka juga menyebut belum menerima bukti apa pun yang mendukung klaim Mark Gerhard. Menurut pernyataan resmi, setiap dugaan keterlibatan Ritual Network adalah tidak benar. Bantahan ini memperlihatkan adanya perbedaan klaim yang tajam antara kedua pihak. Hingga kini, belum ada bukti publik yang menguatkan salah satu versi. Kasus ini masih berkembang dan berpotensi memicu polemik lanjutan di industri game.
