kholvad.com – Dead as Disco akhirnya resmi meluncur dalam fase Early Access pada 5 Mei lalu. Game indie garapan Brain Jar Games tersebut langsung menarik perhatian komunitas gamer. Sebelumnya, game ini pertama kali diperkenalkan pada pertengahan 2025. Sejak awal pengumuman, konsep unik yang ditawarkan memang sudah memancing rasa penasaran banyak pemain. Dead as Disco menggabungkan elemen pertarungan dengan sistem rhythm berbasis musik. Pendekatan tersebut membuat game tampil berbeda dibanding kebanyakan game fighting modern.
“Baca Juga: FromSoftware Disebut Sedang Siapkan Proyek Baru”
Hanya dalam waktu 48 jam setelah perilisan, game ini berhasil terjual hingga 100 ribu unit. Angka tersebut diumumkan langsung oleh pihak developer kepada publik. Kesuksesan itu cukup mengejutkan untuk ukuran game indie yang baru memasuki tahap Early Access. Selain penjualan tinggi, respons komunitas pemain juga terlihat sangat positif sejak hari pertama. Di platform Steam, game ini bahkan memperoleh status ulasan Overwhelmingly Positive. Pencapaian tersebut menunjukkan antusiasme pemain terhadap konsep gameplay unik yang ditawarkan developer. Kini, Dead as Disco mulai disebut sebagai salah satu kejutan menarik di ranah game indie tahun ini.
Gameplay Rhythm Fighting Jadi Daya Tarik Utama
Dead as Disco hadir dengan konsep yang memadukan bela diri dan video musik interaktif. Dalam gameplay-nya, setiap serangan pemain harus mengikuti tempo soundtrack yang sedang diputar. Semakin tepat serangan mengikuti beat musik, semakin besar damage yang dihasilkan karakter. Selain damage lebih tinggi, pemain juga akan mendapatkan skor lebih besar selama pertarungan berlangsung. Sistem tersebut membuat ritme musik menjadi bagian penting dari keseluruhan gameplay. Pendekatan seperti ini jarang ditemukan dalam game fighting modern saat ini.
Banyak pemain langsung tertarik karena gameplay terasa unik sekaligus menantang. Perpaduan visual penuh warna dan musik energik juga memperkuat identitas game tersebut. Brain Jar Games tampaknya ingin menghadirkan pengalaman bermain yang terasa seperti pertunjukan musik interaktif. Setiap pertarungan dibuat menyerupai koreografi aksi yang sinkron dengan lagu yang diputar. Karena itu, pemain tidak hanya dituntut cepat, tetapi juga harus menjaga ritme permainan. Kombinasi mekanik fighting dan rhythm ini menjadi salah satu alasan game mendapat respons positif dari komunitas Steam.
Fitur Import Musik Sendiri Jadi Sorotan Besar
Salah satu fitur yang paling banyak menarik perhatian pemain adalah kemampuan import musik pribadi. Dalam Dead as Disco, pemain dapat menggunakan lagu favorit mereka sendiri saat bermain. Artinya, pertarungan dalam game bisa berlangsung mengikuti soundtrack pilihan masing-masing pemain. Fitur tersebut memberi kebebasan besar dalam menciptakan pengalaman bermain yang lebih personal. Namun, lagu yang di-import tidak langsung dapat digunakan begitu saja dalam gameplay. Pemain harus melakukan proses kalibrasi terlebih dahulu agar tempo musik sinkron dengan aksi pertarungan. Sistem ini memastikan setiap serangan tetap sesuai dengan beat lagu yang digunakan.
Selain itu, developer juga menghadirkan fitur Advanced Editor untuk penyesuaian lebih detail. Editor tersebut memungkinkan pemain mengatur tempo dan titik beat secara manual. Fitur itu penting karena setiap lagu memiliki struktur ritme yang berbeda-beda. Dengan editor tersebut, pemain dapat memastikan seluruh bagian lagu tetap nyaman dimainkan. Pendekatan ini membuat Dead as Disco terasa fleksibel sekaligus kreatif bagi komunitas musik dan game. Tidak banyak game rhythm modern yang memberikan kebebasan personalisasi sebesar ini kepada pemain.
Komunitas Steam Beri Respons Sangat Positif
Kesuksesan awal Dead as Disco tidak hanya terlihat dari angka penjualan saja. Respons komunitas pemain di Steam juga menjadi faktor penting dalam popularitas game ini. Saat artikel ini ditulis, game tersebut masih mempertahankan predikat Overwhelmingly Positive di platform Steam. Status itu menunjukkan mayoritas pemain memberikan ulasan sangat baik terhadap pengalaman bermain mereka. Banyak pengguna memuji konsep gameplay yang dianggap segar dan berbeda dari game lain. Sistem rhythm berbasis lagu pribadi juga disebut menjadi fitur paling menarik oleh komunitas.
Selain gameplay, visual dan presentasi musik game turut mendapat banyak apresiasi. Dead as Disco dianggap berhasil menghadirkan atmosfer energik yang cocok dengan konsep pertarungan ritmis. Untuk ukuran game indie, pencapaian seperti ini tentu cukup besar bagi Brain Jar Games. Kesuksesan tersebut juga memperlihatkan pasar game indie masih terbuka untuk ide kreatif dan eksperimental. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak game indie sukses justru lahir dari konsep unik di luar tren mainstream. Dead as Disco kini menjadi contoh terbaru bagaimana inovasi gameplay masih sangat dihargai komunitas gamer modern.
“Baca Juga: vivo X500 Series Bocor Jelang Peluncuran Resmi”
Versi Konsol Sudah Direncanakan Developer
Saat ini, Dead as Disco baru tersedia untuk platform PC. Pemain dapat membeli game tersebut melalui Steam maupun Epic Games Store. Namun, developer sebelumnya sudah mengonfirmasi rencana menghadirkan versi PlayStation 5 di masa mendatang. Hingga sekarang, Brain Jar Games memang belum memberikan jadwal pasti mengenai perilisan versi konsol tersebut. Meski begitu, kesuksesan versi Early Access kemungkinan akan memperkuat rencana ekspansi platform game. Banyak pemain konsol mulai menunjukkan ketertarikan terhadap konsep rhythm fighting yang ditawarkan.
Jika terus mendapat respons positif, Dead as Disco berpotensi berkembang menjadi salah satu franchise indie baru yang cukup besar. Apalagi, fitur personalisasi musik memberi pengalaman berbeda bagi setiap pemain. Dalam industri game modern, pengalaman unik seperti itu sering menjadi faktor penting keberhasilan jangka panjang. Kini, komunitas menunggu bagaimana Brain Jar Games akan mengembangkan game selama masa Early Access berlangsung. Dengan awal yang sangat positif, masa depan Dead as Disco terlihat cukup menjanjikan di pasar game indie modern.
