kholvad.com – Para ilmuwan di China sedang mengembangkan robot kehamilan humanoid pertama yang mampu mengandung bayi manusia hingga lahir. Robot ini dilengkapi rahim buatan yang menyalurkan nutrisi melalui selang. Teknologi tersebut dipimpin oleh Dr. Zhang Qifeng, pendiri Kaiwa Technology, dan diharapkan dapat dirilis tahun depan. Harga prototipe diperkirakan mencapai 100.000 yuan atau sekitar Rp22,5 juta.
Tidak seperti inkubator tradisional, perangkat ini dirancang untuk mereplikasi seluruh proses kehamilan, mulai dari pembuahan hingga persalinan. Pengumuman mengenai proyek ini disampaikan Dr. Zhang dalam wawancara yang tersebar di Douyin, platform media sosial asal Tiongkok.
Teknologi robot kehamilan Rahim Buatan dan Potensi Penggunaannya
Dr. Zhang menjelaskan bahwa teknologi rahim buatan saat ini sudah berada pada tahap matang. Tantangan utama adalah menanamkan sistem ini ke dalam tubuh robot agar proses kehamilan dapat berlangsung alami. Robot tersebut diharapkan mampu berinteraksi dengan manusia layaknya ibu sungguhan.
Meski demikian, belum ada penjelasan detail terkait proses pembuahan dan penanaman embrio. Para ahli masih menilai aspek ilmiah sekaligus memastikan standar keamanan medis. Sebagai referensi, penelitian sebelumnya di Amerika Serikat pernah menggunakan “biobag” untuk memelihara janin domba prematur. Hasilnya, janin tetap tumbuh sehat dalam kantong berisi cairan ketuban dan suplai nutrisi.
Teknologi seperti ini berpotensi menjadi terobosan dalam menangani infertilitas. Data resmi menunjukkan angka infertilitas di China meningkat dari 11,9 persen pada 2007 menjadi 18 persen pada 2020. Pemerintah setempat kini memasukkan program fertilisasi in vitro dalam asuransi kesehatan sebagai upaya mendukung angka kelahiran.
Pro-Kontra Etika dan Pandangan Publik
Inovasi robot kehamilan memicu diskusi hangat di media sosial China. Banyak pihak menganggap teknologi ini tidak alami dan berisiko menghapus ikatan emosional antara ibu dan anak. Kritik etika juga muncul terkait proses pengambilan sel telur serta hak-hak bayi yang lahir melalui metode tersebut.
Namun, ada pula yang menyambut positif. Pendukungnya menilai teknologi ini dapat mengurangi penderitaan medis pada perempuan dan membantu pasangan yang sulit hamil. “Banyak keluarga membayar biaya besar untuk inseminasi buatan, namun gagal. Robot kehamilan bisa memberi harapan baru,” kata salah satu pengguna media sosial, dikutip dari Daily Mail.
Forum diskusi antara peneliti, pihak berwenang, dan regulator di Provinsi Guangdong kini tengah membahas kebijakan serta aturan hukum. Hal ini penting agar penerapan teknologi tetap selaras dengan norma sosial dan regulasi kesehatan.
“Baca Juga: Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-80 RI di Istana“
Masa Depan Teknologi Reproduksi Buatan
Jika berhasil, robot kehamilan dapat dianggap sebagai inovasi medis revolusioner. Teknologi ini berpotensi mendukung penelitian biomedis, mengurangi risiko komplikasi kehamilan, serta menjawab tantangan demografi akibat menurunnya angka kelahiran.
Survei global pada 2022 menunjukkan sekitar 42 persen responden usia 18–24 tahun mendukung pengembangan janin sepenuhnya di luar tubuh perempuan. Pandangan ini mencerminkan perubahan sikap generasi muda terhadap teknologi reproduksi.
Dengan perkembangan cepat di bidang kecerdasan buatan, robotika, dan bioteknologi, kemungkinan besar kehamilan buatan akan menjadi topik utama diskusi etika global. Apabila teknologi ini terbukti aman, robot kehamilan dapat menjadi bagian penting dari masa depan kesehatan reproduksi manusia.
“Baca Juga: Gunung Lewotobi Erupsi, Bandara Maumere Ditutup Sementara“
