kholvad.com – Industri smartphone global memasuki fase penuh tekanan pada 2026. Lonjakan harga memori menjadi faktor utama yang membebani produsen. Lembaga riset TrendForce memproyeksikan produksi smartphone dunia akan turun sekitar 10 persen sepanjang tahun ini. Dalam skenario terburuk, penurunan bahkan dapat melebar hingga lebih dari 15 persen.
“Baca Juga: Kreator Fallout Sebut Fallout 3 dan 4 Akan Berbeda”
Kenaikan biaya produksi dipicu oleh lonjakan harga kontrak memori. Untuk konfigurasi populer 8GB/256GB, harga memori disebut melonjak dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Perubahan ini berdampak langsung pada struktur biaya perangkat.
Jika sebelumnya memori hanya menyumbang sekitar 10 hingga 15 persen dari total biaya produksi, kini porsinya meningkat menjadi 30 hingga 40 persen. Kenaikan drastis tersebut memaksa produsen menyesuaikan strategi produksi dan harga.
Harga RAM Melonjak, Margin Produsen Tergerus
Lonjakan harga RAM memberikan tekanan signifikan pada margin keuntungan. Produsen harus memilih antara menaikkan harga jual atau mengurangi volume produksi. Dalam pasar yang sensitif terhadap harga, keputusan tersebut tidak mudah.
Model entry-level menjadi segmen paling terdampak. Perangkat di kelas ini memiliki margin tipis sejak awal. Ketika biaya komponen meningkat, ruang keuntungan semakin menyempit. Tekanan ini membuat beberapa merek menurunkan target produksi.
TrendForce menilai bahwa kenaikan biaya memori tidak hanya berdampak pada segmen premium. Segmen menengah dan bawah justru menghadapi tekanan lebih besar. Konsumen di kelas tersebut cenderung sensitif terhadap kenaikan harga.
Xiaomi dan Transsion Paling Rentan terhadap Tekanan Biaya
Merek yang mengandalkan volume penjualan di kelas entry-level dinilai paling rentan. TrendForce menyebut Xiaomi dan Transsion sebagai contoh. Kedua perusahaan memiliki fokus kuat pada pasar dengan harga kompetitif.
Ketika biaya memori melonjak, strategi harga agresif menjadi sulit dipertahankan. Margin keuntungan tergerus dan memaksa penyesuaian produksi. Penurunan target produksi menjadi langkah untuk menjaga stabilitas bisnis.
Sementara itu, merek seperti vivo, OPPO, dan Honor berada dalam posisi terjepit. Mereka menghadapi tekanan biaya RAM yang tinggi. Di saat yang sama, persaingan domestik di Tiongkok semakin ketat.
Huawei Dinilai Lebih Tahan di Pasar Tiongkok
Di pasar Tiongkok, persaingan tetap memanas meskipun biaya produksi meningkat. TrendForce menilai Huawei berada dalam posisi relatif lebih kuat. Perusahaan tersebut memiliki ekosistem HarmonyOS yang solid.
Ekosistem yang terintegrasi memberikan nilai tambah bagi konsumen. Hal ini memungkinkan Huawei mempertahankan daya saing. TrendForce bahkan menyebut Huawei kemungkinan menjadi merek dengan penyesuaian produksi terkecil.
Dalam kondisi pasar yang melemah, kemampuan mempertahankan pertumbuhan menjadi keunggulan strategis. Integrasi perangkat dan layanan membantu menciptakan loyalitas pengguna. Faktor ini berperan penting di tengah tekanan biaya.
“Baca Juga: itel City 200 Tawarkan Kamera 50 MP”
Faktor Struktural Perpanjang Siklus Penggantian Smartphone
Selain masalah harga memori, TrendForce menyoroti faktor struktural lain. Smartphone modern dinilai sudah cukup untuk kebutuhan harian. Peningkatan spesifikasi tidak lagi memberikan lonjakan manfaat signifikan bagi banyak pengguna.
Akibatnya, siklus penggantian perangkat menjadi lebih panjang. Konsumen tidak terburu-buru membeli model baru. Permintaan pasar pun cenderung melambat. Bahkan jika harga memori stabil, tren ini diperkirakan belum berbalik dalam waktu dekat.
Kombinasi tekanan biaya dan perlambatan permintaan menciptakan tantangan ganda. Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode penyesuaian bagi industri smartphone global. Produsen kini harus mengelola biaya sekaligus menjaga daya tarik produk di pasar yang semakin matang.
