kholvad.com – Harga memori DDR4 diperkirakan mengalami kenaikan tajam pada kuartal ketiga 2026. Kondisi tersebut terjadi ketika produsen mengalihkan kapasitas DRAM menuju kebutuhan High Bandwidth Memory atau HBM.
DDR4 selama ini masih menjadi pilihan utama untuk banyak komputer dan perangkat generasi sebelumnya. Teknologi tersebut juga dikenal lebih terjangkau dibandingkan standar memori yang lebih baru.
Namun, ketersediaannya mulai menghadapi tekanan akibat perubahan prioritas industri. Produsen memori melihat HBM sebagai produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Permintaan terhadap HBM juga terus meningkat seiring perkembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan.
“Baca Juga: Trailer Gameplay Black Myth: Zhong Kui Tayang Selama 15 Menit”
Morgan Stanley memperkirakan harga DDR4 dapat meningkat sekitar 50 persen pada kuartal ketiga 2026. Harga tersebut kemudian masih berpotensi naik lebih dari 10 persen pada kuartal berikutnya.
Produsen Memori Mengalihkan Kapasitas DRAM ke HBM
Kenaikan harga DDR4 tidak hanya disebabkan oleh meningkatnya permintaan. Berkurangnya pasokan menjadi faktor penting karena produsen mulai mengurangi produksi DRAM tradisional.
Kapasitas tersebut kemudian diarahkan untuk memenuhi kebutuhan HBM yang digunakan dalam sistem AI. HBM memiliki peran penting dalam akselerator komputasi yang digunakan pusat data.
Perubahan tersebut membuat pasar memori konsumen menghadapi tekanan pasokan. Produsen perlu membagi kapasitas produksi berdasarkan permintaan dan nilai ekonomi setiap produk.
Samsung, SK hynix, dan Micron menjadi beberapa produsen besar yang memiliki posisi penting. Ketiganya memiliki insentif untuk meningkatkan produksi memori yang berkaitan dengan AI.
Namun, pembangunan fasilitas produksi baru membutuhkan waktu yang tidak singkat. Kondisi tersebut membuat penambahan kapasitas tidak dapat langsung mengatasi perubahan permintaan.
SLC NAND dan NOR Flash Juga Berpotensi Mengalami Kenaikan
DDR4 bukan satu-satunya jenis memori yang diperkirakan mengalami kenaikan harga. Morgan Stanley juga memperkirakan tekanan harga terjadi pada beberapa kategori memori lainnya.
Harga SLC NAND diperkirakan dapat meningkat lebih dari 50 persen pada kuartal ketiga dan keempat 2026. NOR Flash juga berpotensi mengalami kenaikan harga pada periode berikutnya.
Perkembangan tersebut menunjukkan dampak boom AI mulai menjangkau segmen memori tradisional. Produsen menghadapi kebutuhan untuk menentukan alokasi kapasitas berdasarkan permintaan pasar.
HBM menjadi salah satu produk yang mendapatkan perhatian besar dari industri. Permintaan tersebut berasal dari perusahaan teknologi dan operator pusat data yang membangun infrastruktur AI.
Akibatnya, produk memori konsumen dapat menghadapi persaingan mendapatkan kapasitas produksi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan harga meskipun teknologinya sudah tergolong lama.
Pembeli AI dan Cloud Memiliki Posisi Lebih Kuat
Morgan Stanley mencatat pembeli dari sektor AI dan cloud memiliki posisi lebih kuat dalam mengamankan pasokan. Perusahaan tersebut dapat menggunakan kontrak jangka panjang untuk mendapatkan alokasi memori.
Strategi tersebut memberikan kepastian permintaan bagi produsen memori. Sebaliknya, pembeli tradisional di sektor konsumen harus bersaing mendapatkan kapasitas yang tersedia.
Perbedaan posisi tersebut dapat memengaruhi distribusi pasokan memori di pasar. Produsen cenderung memprioritaskan kebutuhan dengan volume dan nilai kontrak yang lebih menarik.
Situasi ini menjadi salah satu konsekuensi perkembangan industri AI terhadap perangkat konsumen. Permintaan komputasi AI tidak hanya memengaruhi harga GPU dan server.
Kebutuhan memori juga menjadi bagian penting dalam pembangunan infrastruktur AI. Ketika kapasitas produksi terbatas, perubahan prioritas dapat memberikan dampak pada berbagai segmen pasar.
“Baca Juga: Modder Bikin Wii Remote untuk Nintendo Switch 2″
Platform DDR4 Tidak Lagi Menjamin Biaya Lebih Murah
Bagi gamer dan pengguna PC, kenaikan harga DDR4 dapat mengubah strategi dalam membangun komputer. Selama ini, platform DDR4 menjadi alternatif ekonomis untuk sistem yang lebih lama.
Teknologi tersebut biasanya menawarkan harga lebih rendah karena sudah tersedia dalam waktu cukup panjang. Banyak pengguna juga masih memakai motherboard yang mendukung DDR4.
Namun, harga murah tidak lagi otomatis terjamin ketika pasokannya mulai dikurangi. Kelangkaan produk lama justru dapat mendorong harga naik di tengah permintaan yang masih tersedia.
Kondisi tersebut membuat keputusan memilih platform lama menjadi lebih kompleks. Pengguna perlu mempertimbangkan harga memori, ketersediaan komponen, dan kebutuhan upgrade.
Prediksi Morgan Stanley juga menunjukkan tekanan harga dapat berlanjut setelah kuartal ketiga. Jika kapasitas produksi terus diarahkan ke HBM, pasar DDR4 berpotensi menghadapi pasokan lebih ketat.
Dengan demikian, dampak perkembangan AI kini semakin terasa hingga pasar hardware konsumen. DDR4 yang sebelumnya identik dengan pilihan ekonomis dapat menghadapi situasi berbeda. Perkembangan harga beberapa kuartal mendatang akan menentukan seberapa besar dampaknya bagi pengguna PC.
