kholvad.com – Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pembicaraan keamanan tingkat tinggi di Abu Dhabi pada Jumat mendatang. Agenda ini menjadi upaya terbaru untuk mencari jalan keluar dari konflik berkepanjangan yang telah memasuki tahun keempat. Namun, Moskow menegaskan sejak awal bahwa perdamaian yang berkelanjutan tidak akan tercapai tanpa penyelesaian persoalan wilayah yang menjadi inti sengketa. Sikap tersebut disampaikan tak lama setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menggelar pertemuan larut malam dengan tiga utusan Amerika Serikat di Moskow.
“Baca Juga: Kesepakatan NATO Bikin Trump Batalkan Ancaman Tarif Greenland”
Pertemuan yang dimulai menjelang tengah malam itu berlangsung selama sekitar empat jam. Kremlin menyebut dialog tersebut sebagai pembahasan yang mendalam dan terbuka, meski belum menghasilkan terobosan signifikan. Pernyataan Rusia ini langsung menegaskan bahwa jalur diplomasi masih panjang dan sarat kepentingan strategis dari masing-masing pihak.
Putin Tegaskan Isu Wilayah Jadi Kunci Perdamaian
Ajudan Kremlin Yuri Ushakov mengatakan bahwa pembicaraan antara Putin dan delegasi AS bersifat “substantif, konstruktif, dan sangat jujur”. Namun, ia menegaskan bahwa posisi Rusia tetap tidak berubah. Menurut Ushakov, Putin kembali menekankan bahwa tanpa penyelesaian masalah teritorial sesuai formula yang telah dibahas dalam pertemuan puncak Trump–Putin di Anchorage, Alaska, pada tahun sebelumnya, tidak akan ada penyelesaian jangka panjang.
“Tanpa menyelesaikan masalah teritorial, tidak ada harapan mencapai perdamaian yang berkelanjutan,” ujar Ushakov, seperti dikutip Reuters pada Jumat (23/1/2026). Putin, lanjutnya, menyatakan Rusia tetap sangat tertarik pada solusi diplomatik. Namun, Moskow tidak akan menghentikan operasi militernya sebelum kesepakatan yang dianggap adil dan mengikat benar-benar tercapai.
Delegasi dan Agenda Pembahasan di Abu Dhabi
Dalam pembicaraan keamanan tiga pihak di Abu Dhabi, Rusia akan diwakili oleh Laksamana Igor Kostyukov. Sementara itu, utusan investasi Rusia Kirill Dmitriev dijadwalkan menggelar pertemuan terpisah dengan utusan Presiden AS Donald Trump, yakni Steve Witkoff, untuk membahas isu ekonomi dan kerja sama pascakonflik.
Meski agenda diplomatik tampak padat, Ushakov menegaskan bahwa pertemuan ini belum bisa dianggap sebagai titik balik. Menurutnya, Rusia masih memandang medan perang sebagai faktor penentu tekanan politik, terutama karena angkatan bersenjata Rusia dinilai masih memegang inisiatif strategis di sejumlah wilayah konflik.
Ukraina Hadapi Musim Dingin Terberat
Di sisi lain, Ukraina tengah menghadapi salah satu musim dingin terberat sejak perang dimulai. Serangan rudal dan drone Rusia terhadap infrastruktur energi menyebabkan pemadaman listrik berkepanjangan di Kyiv dan kota-kota besar lainnya, di tengah suhu yang turun jauh di bawah titik beku. Kondisi ini memperburuk situasi kemanusiaan dan menambah tekanan politik terhadap pemerintah Ukraina.
Pemerintah Ukraina menilai serangan tersebut sebagai bukti bahwa Rusia tidak memiliki niat tulus untuk berdamai. Namun, Moskow membantah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa setiap kemajuan militernya dicapai dengan biaya besar, baik dari sisi personel maupun logistik.
“Baca Juga: Intel Alder Lake Resmi Memasuki Akhir Siklus”
Peran Trump dan Prospek Negosiasi
Dari pihak Rusia, perundingan sebelumnya di Moskow dihadiri oleh Putin, Ushakov, dan Dmitriev. Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Steve Witkoff, didampingi Jared Kushner serta Josh Gruenbaum, penasihat senior Dewan Perdamaian Presiden AS yang baru dibentuk. Pembicaraan ini menjadi bagian dari upaya terbaru Donald Trump untuk mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua.
Trump sebelumnya menyatakan bahwa Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy akan “bodoh” jika gagal bersatu dan mencapai kesepakatan damai. Witkoff sendiri menyampaikan optimisme menjelang perundingan, dengan menyebut bahwa negosiasi selama berbulan-bulan kini mengerucut pada satu isu utama yang diyakini berkaitan erat dengan persoalan wilayah.
