kholvad.com – Inggris dan Prancis menggelar pertemuan militer bersama lebih dari 30 negara untuk menyusun strategi pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia.
Konferensi berlangsung selama dua hari dan dimulai pada Rabu, 22 April 2026. Pertemuan digelar di markas militer gabungan Inggris di Northwood, London Utara.
“Baca Juga: Aturan Lama Dicabut, Jepang Boleh Ekspor Senjata”
Langkah ini menunjukkan kekhawatiran internasional terhadap gangguan pelayaran di kawasan Teluk. Penutupan atau pembatasan Selat Hormuz dapat berdampak langsung pada harga energi global.
Karena itu, pembukaan kembali jalur ini menjadi prioritas bagi banyak negara mitra.
Fokus pada Rencana Militer yang Bisa Langsung Dijalankan
Pertemuan tersebut tidak hanya bersifat diplomatik. Para peserta disebut berupaya menerjemahkan kesepakatan politik terbaru menjadi rencana militer konkret.
Menurut laporan, pembahasan berfokus pada kemampuan militer tiap negara. Selain itu, sistem komando dan kendali juga menjadi agenda utama.
Para perencana membahas bagaimana pasukan dapat dikerahkan ke wilayah tersebut jika kondisi memungkinkan. Ini termasuk koordinasi laut, logistik, dan keamanan rute dagang.
Pendekatan seperti ini penting agar respons internasional berjalan cepat. Jika keputusan politik tercapai, kesiapan teknis sudah tersedia.
Kolaborasi multinasional juga menunjukkan bahwa isu Selat Hormuz dipandang sebagai masalah keamanan global.
Pembatasan Iran Bermula Setelah Serangan Februari
Krisis terbaru bermula setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Beberapa hari kemudian, pada 2 Maret, Iran mengumumkan pembatasan navigasi di Selat Hormuz. Kebijakan itu memicu kekhawatiran luas.
Selat Hormuz sangat vital bagi ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk. Gangguan kecil saja dapat memengaruhi rantai pasok global.
Banyak kapal dagang dan tanker energi melewati jalur tersebut setiap hari. Karena itu, stabilitas kawasan sangat menentukan ekonomi dunia.
Langkah Iran dipandang sebagai tekanan strategis terhadap lawan-lawannya di tengah konflik yang memanas.
Pakistan Jadi Mediator Penting Gencatan Senjata
Pakistan kemudian tampil sebagai mediator utama antara AS dan Iran. Islamabad menjadi tuan rumah pembicaraan pada 11 hingga 12 April.
Sebelumnya, Pakistan juga membantu menengahi gencatan senjata selama 14 hari yang mulai berlaku pada 8 April. Kesepakatan itu seharusnya berakhir Rabu malam waktu Washington.
Peran Pakistan mendapat perhatian karena mampu menjembatani dua pihak yang sangat tegang. Posisi diplomatik negara itu kini semakin penting.
Namun gencatan senjata belum otomatis menyelesaikan semua persoalan. Jalur pelayaran dan sanksi tetap menjadi isu sensitif.
Keberhasilan mediasi tahap berikutnya akan sangat menentukan situasi kawasan.
“Baca Juga: Huawei AI Glasses Hadir Bawa Material Titanium”
Trump Perpanjang Gencatan, Hormuz Masih Belum Pasti
Presiden Donald Trump pada Selasa menyatakan Washington memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Langkah itu disebut memberi waktu bagi Teheran menyiapkan proposal terpadu.
Keputusan tersebut diambil setelah permintaan pejabat Pakistan. Ini menunjukkan negosiasi masih terus berjalan di balik layar.
Meski demikian, belum ada kepastian kapan Selat Hormuz akan dibuka normal kembali. Ketidakpastian itu masih membayangi pasar energi dan pelayaran internasional.
Inggris dan Prancis tampaknya ingin bersiap sebelum keputusan final tercapai. Dengan begitu, jalur laut dapat diamankan lebih cepat saat momentum diplomatik muncul.
Dunia kini menunggu apakah perundingan baru mampu menghasilkan kesepakatan nyata atau justru memicu ketegangan lanjutan di kawasan Teluk.
