kholvad.com – Iran dilaporkan menolak usulan gencatan senjata dari Amerika Serikat yang dibawa oleh Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi. Penolakan tersebut terjadi ketika konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung selama hampir dua pekan.
Laporan ini pertama kali diungkap oleh The New York Times berdasarkan keterangan sejumlah pejabat Iran dan Irak yang mengetahui proses pembahasan tersebut. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Washington maupun Teheran yang mengonfirmasi isi lengkap proposal tersebut.
“Baca Juga: Nubia NaviX Ultra Pakai Snapdragon 8 Elite Gen 5″
Penolakan Iran menunjukkan bahwa upaya diplomatik untuk menghentikan konflik masih menghadapi tantangan besar. Perselisihan mengenai isu strategis di kawasan tetap menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan.
Usulan Gencatan Senjata Dibawa Ali al-Zaidi setelah Bertemu Donald Trump
Menurut laporan The New York Times, Ali al-Zaidi membawa usulan gencatan senjata ketika melakukan kunjungan resmi ke Teheran. Kunjungan itu dilakukan setelah dirinya bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa rincian proposal belum diungkap secara menyeluruh. Namun, sejumlah pejabat Iran menggambarkan proposal itu sebagai satu-satunya tawaran yang saat ini diajukan kepada Teheran.
Iran memutuskan menolak usulan tersebut karena dinilai belum menyentuh persoalan utama yang menjadi sumber sengketa. Salah satu isu yang disebut belum terselesaikan adalah kendali atas Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dunia. Stabilitas kawasan tersebut memiliki pengaruh besar terhadap perdagangan energi internasional.
Kunjungan ini juga menjadi lawatan resmi pertama Ali al-Zaidi ke Iran sejak menjabat sebagai Perdana Menteri Irak pada Mei lalu. Ia datang bersama delegasi yang terdiri atas sejumlah menteri senior.
Pertemuan Iran dan Irak Bahas Kerja Sama hingga Stabilitas Kawasan
Selama berada di Teheran, Ali al-Zaidi bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Pertemuan tersebut membahas hubungan bilateral, perkembangan kawasan, serta upaya memperkuat keamanan regional.
Kedua pihak juga membicarakan pelaksanaan berbagai perjanjian yang telah ditandatangani sebelumnya. Pemerintah Iran dan Irak turut mendorong peningkatan kerja sama di berbagai sektor strategis.
Bidang yang dibahas meliputi perdagangan, energi, transportasi, dan isu-isu regional. Kedua negara menilai kerja sama tersebut penting untuk menjaga stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan media lokal Iran, Ali al-Zaidi juga bertemu Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Selain itu, ia mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Pertemuan dengan sejumlah pejabat tinggi tersebut menunjukkan bahwa kunjungan tidak hanya berfokus pada konflik yang sedang berlangsung. Hubungan bilateral kedua negara juga menjadi agenda utama pembahasan.
Iran Bersiap Hadapi Potensi Eskalasi Konflik yang Lebih Luas
The New York Times melaporkan bahwa pemerintah Iran mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik yang semakin meluas. Langkah tersebut dilakukan apabila Amerika Serikat meningkatkan operasi militernya terhadap Iran.
Dua pejabat Iran mengatakan bahwa Teheran telah menyiapkan sejumlah opsi respons apabila serangan terhadap wilayah dan infrastruktur penting kembali terjadi. Salah satu skenario yang disebut adalah memperluas area konfrontasi.
Menurut laporan tersebut, Iran dapat meningkatkan serangan terhadap Tel Aviv apabila konflik terus berkembang. Selain itu, kelompok Houthi di Yaman disebut berpotensi diminta menutup Selat Bab al-Mandab.
Selat Bab al-Mandab merupakan jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memengaruhi arus perdagangan internasional.
Meski demikian, seluruh skenario tersebut masih berupa pernyataan dari pejabat yang dikutip dalam laporan media. Belum ada konfirmasi resmi mengenai langkah yang benar-benar akan diambil Iran.
“Baca Juga: Apple Dikabarkan Tunda Peluncuran iPhone Ultra”
Ketegangan AS dan Iran Terus Meningkat di Tengah Gangguan Jalur Energi
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan bahwa pasukannya telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran selama 13 malam berturut-turut hingga Jumat, 24 Juli 2026.
Sementara itu, otoritas Iran melaporkan bahwa hingga Rabu, 22 Juli 2026, serangan tersebut mengakibatkan 53 orang meninggal dunia. Sebanyak 592 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Ketegangan meningkat setelah Presiden Donald Trump pada 8 Juli menyatakan bahwa nota kesepahaman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak lagi berlaku. Sejak saat itu, kedua negara terus melancarkan serangan balasan.
Amerika Serikat berfokus menyerang berbagai target di dalam wilayah Iran. Sebaliknya, Teheran mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas serta peralatan militer Amerika Serikat di beberapa negara di kawasan.
Konfrontasi tersebut turut mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia. Selain itu, sejumlah wilayah udara mengalami penutupan berkala, sementara status kewaspadaan terhadap aset-aset Amerika Serikat di luar Timur Tengah terus ditingkatkan. Hingga kini, berbagai upaya diplomatik masih berlangsung, tetapi belum menunjukkan tanda-tanda tercapainya kesepakatan untuk menghentikan konflik yang terus berkembang.
