kholvad.com – Gelombang demonstrasi besar kembali terjadi di Amerika Serikat pada akhir Maret 2026. Aksi bertajuk “No Kings” digelar di lebih dari 3.000 kota dan desa. Penyelenggara mengklaim sekitar 8 juta orang turun ke jalan. Jika angka ini akurat, aksi ini menjadi salah satu demonstrasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Massa berkumpul di berbagai wilayah, termasuk kota besar dan komunitas kecil. Mereka menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah. Aksi ini mencerminkan meningkatnya ketegangan politik domestik di AS.
“Baca Juga: PHK Karyawan Kembali Terjadi di Eidos Montreal”
Gerakan No Kings Berlanjut Sejak 2025 dengan Skala Lebih Besar
Gerakan “No Kings” bukan aksi yang muncul secara tiba-tiba. Protes ini merupakan kelanjutan dari demonstrasi nasional yang dimulai pada Juni 2025. Aksi terbaru ini menjadi putaran ketiga dari rangkaian protes tersebut. Penyelenggara menyebut sekitar 3.200 aksi direncanakan pada 28 Maret 2026. Sejumlah organisasi besar terlibat dalam koordinasi gerakan ini. Di antaranya ACLU, National Action Network, dan United Federation of Teachers. Mereka menyatakan tujuan utama adalah menyampaikan kritik terhadap arah kebijakan pemerintah. Skala aksi menunjukkan peningkatan partisipasi dibanding sebelumnya.
Isu Beragam Jadi Pemicu Demonstrasi Massal Nasional
Tidak ada satu tuntutan tunggal dalam aksi ini. Demonstrasi mencerminkan berbagai isu yang berkembang di masyarakat. Salah satu isu utama adalah penggunaan pasukan federal dalam penegakan hukum imigrasi. Selain itu, kasus kematian warga oleh aparat federal turut menjadi sorotan. Demonstran juga menyoroti kebijakan luar negeri, termasuk konflik dengan Iran. Beragamnya isu menunjukkan luasnya ketidakpuasan publik. Hal ini membuat gerakan memiliki basis dukungan yang beragam. Setiap kelompok membawa aspirasi yang berbeda dalam satu aksi bersama.
Aksi Meluas ke Kota Besar hingga Negara Lain
Demonstrasi terjadi di berbagai wilayah di Amerika Serikat. Kota seperti San Francisco dan Los Angeles menjadi pusat aksi besar. Di Texas, protes juga berlangsung di Dallas, Arlington, dan Fort Worth. Aksi tidak hanya terjadi di wilayah urban. Komunitas kecil dan pinggiran kota juga ikut berpartisipasi. Bahkan, setengah dari aksi dilaporkan terjadi di wilayah basis Partai Republik. Selain di AS, aksi serupa muncul di negara lain. Demonstrasi dilaporkan terjadi di kota seperti Roma dan London. Hal ini menunjukkan isu tersebut mendapat perhatian global.
“Baca Juga: ExpertCenter P600 Hadir, ASUS Bawa Ryzen AI 400″
Popularitas Trump Menurun di Tengah Tekanan Politik
Aksi ini terjadi di tengah menurunnya tingkat persetujuan terhadap Presiden Donald Trump. Jajak pendapat Reuters/Ipsos mencatat angka persetujuan berada di 36 persen. Angka ini menjadi yang terendah sejak ia kembali menjabat pada Januari 2026. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kebijakan ekonomi dinilai berkontribusi pada meningkatnya biaya hidup. Selain itu, keputusan terkait konflik internasional juga menjadi sorotan. Di tengah kondisi ini, dorongan pemakzulan mulai muncul di publik. Meski demikian, belum ada langkah resmi dari Kongres terkait hal tersebut.
