Era Otomatisasi Mengancam Pekerjaan Global
Transformasi teknologi informasi dan komunikasi membuka peluang baru bagi umat manusia. Namun, setiap perubahan besar juga memunculkan tantangan serius. Salah satunya adalah risiko meningkatnya pengangguran akibat otomatisasi yang semakin masif.
Dalam Future of Jobs Report 2023 yang dipublikasikan oleh World Economic Forum, diprediksi sekitar 85 juta pekerjaan akan hilang pada 2025. Pergeseran ini terutama dipicu oleh adopsi kecerdasan buatan, robot industri, dan sistem otomatisasi yang menggantikan peran manusia di banyak sektor.
Baca Juga : “Patrick Kluivert Ingatkan Timnas Waspada Chinese Taipei“
Peringatan Keras Bagi Dunia Kerja
Deputi III Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Ojat Darojat, menekankan pentingnya kesiapan menghadapi era ini.
“Ini bukan sekadar ancaman, tetapi peringatan keras bagi semua pihak,” tegas Ojat dalam orasi ilmiah berjudul Venturing into Tech-Driven Future with Human-Centered Leadership di Tanri Abeng University, Sabtu (6/9/2025).
Menurutnya, tanpa upaya reskilling yang terstruktur, Indonesia akan menghadapi krisis pengangguran dan ketimpangan sosial. Maka, investasi terbesar harus difokuskan pada manusia, bukan hanya mesin.
Investasi Besar Dalam Sumber Daya Manusia
Negara-negara maju menunjukkan keseriusan dalam menyiapkan tenaga kerja menghadapi era otomatisasi. Perusahaan global seperti Siemens, misalnya, mengalokasikan lebih dari 500 juta Euro setiap tahun untuk pelatihan dan pendidikan karyawan.
Langkah tersebut memastikan tenaga kerja tetap relevan dalam setiap fase perkembangan industri. Ojat menilai Indonesia juga harus bergerak cepat agar tidak tertinggal dalam persaingan global.
Peran Perguruan Tinggi Dalam Reskilling
Pernyataan Ojat disampaikan saat Rapat Senat Terbuka Wisuda S1 dan S2 ke-X Tanri Abeng University. Acara yang berlangsung di Ballroom Mayapada, Jakarta ini dihadiri oleh tokoh nasional, termasuk Wakil Ketua MPR RI Mohammad Eddy Dwiyanto Soeparno, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Himmatul Aliyah, serta Kepala LLDIKTI Wilayah III Henri Togar Hasiholan Tambunan.
Dalam kesempatan itu, Ojat menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting. Selain mencetak tenaga kerja, universitas harus menjadi pusat pembaruan keterampilan agar lulusan siap menghadapi dunia kerja berbasis teknologi.
Mendorong Lulusan Jadi Pencipta Lapangan Kerja
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah, memberikan pesan berbeda namun senada. Ia mendorong lulusan perguruan tinggi agar tidak hanya mengejar pekerjaan, tetapi juga berani menciptakan lapangan kerja baru.
“Manfaatkan setiap kesempatan, bahkan event sederhana bisa jadi peluang bisnis. Jangan takut gagal berdagang,” ungkapnya.
Pernyataan ini mencerminkan urgensi membangun mental kewirausahaan sejak dini. Di tengah disrupsi teknologi, kreativitas dan keberanian mengambil peluang menjadi bekal penting bagi generasi muda.
Kreativitas Sebagai Kunci Sukses
Plt. Rektor Tanri Abeng University, Suyanto, menambahkan bahwa wisuda merupakan momen istimewa yang penuh perjuangan. Ia berharap para lulusan dapat tumbuh sebagai pribadi inovatif.
“Kreativitas dan inovasi akan mengantar kesuksesan di masa depan,” ujarnya.
Pesan ini sekaligus menegaskan bahwa daya saing tidak hanya ditentukan oleh ijazah, tetapi juga kemampuan beradaptasi.
Wisuda Tanri Abeng University: Simbol Harapan Baru
Pada wisuda ke-X ini, sebanyak 230 lulusan S1 dan S2 resmi menyandang gelar sarjana dan pascasarjana. Prosesi berlangsung khidmat, disertai penghargaan bagi lulusan terbaik dan hiburan dari Unit Kegiatan Mahasiswa.
Momen ini bukan hanya perayaan, tetapi juga penegasan tanggung jawab besar yang menanti para lulusan. Mereka diharapkan menjadi bagian dari solusi, bukan korban, dalam menghadapi tantangan otomatisasi.
Konteks Global Dan Tantangan Indonesia
Laporan WEF menegaskan, otomatisasi memang menghapus jutaan pekerjaan, tetapi juga membuka peluang baru. Diperkirakan sekitar 97 juta pekerjaan baru akan muncul, terutama di bidang teknologi, analisis data, energi hijau, serta layanan kesehatan.
Indonesia, dengan populasi produktif terbesar di ASEAN, memiliki potensi besar. Namun, tanpa kebijakan tepat, bonus demografi bisa berubah menjadi bencana pengangguran massal.
Solusi Melalui Pendidikan Dan Kebijakan Publik
Ada tiga langkah strategis yang bisa ditempuh:
- Reskilling Nasional
Program pelatihan ulang massal untuk tenaga kerja yang terancam tergantikan. - Transformasi Kurikulum
Perguruan tinggi dan sekolah harus memperkuat pendidikan berbasis teknologi, kewirausahaan, dan keterampilan adaptif. - Kebijakan Pro Tenaga Kerja
Pemerintah perlu mendorong industri agar berinvestasi pada pekerja, bukan hanya pada teknologi.
Menghadapi Otomatisasi Dengan Kepemimpinan Manusiawi
Era otomatisasi tidak bisa dihindari, namun dapat dihadapi dengan kepemimpinan yang berpusat pada manusia. Reskilling, kreativitas, serta kebijakan yang tepat akan menjadi kunci agar masyarakat tetap berdaya.
Tantangan 85 juta pekerjaan yang terancam bisa menjadi momentum perubahan. Bila dihadapi dengan strategi yang tepat, era otomatisasi justru bisa membuka jalan menuju peradaban kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Baca Juga : “Thom Haye Gabung Persib Bandung, Kagum Fanatisme Bobotoh“
